Spread the love

Dalam penjelasan yang paling sederhana, dilema adalah memilih: atau A atau B. Memilih A, risikonya apa, dampaknya apa? Begitu pula B, manfaatnya apa, efeknya apa?

Manusia, rupanya, memang dilahirkan dengan kenyataan bahwa pada situasi-situasi tertentu, akan jatuh dalam dilema.

Manusia, agaknya, harus menjalani hidup dengan takdir bahwa pada pilihan-pilihan tertentu, akan terlempar dalam kebingungan.

Dilema, dalam keseharian, sering kita lafalkan sebagai, “Saya bingung…..” Manusia, dalam artian tertentu, memang makhluk dilematis. Manusia, kalau mau jujur, adalah makhluk yang sering dihantui kebingungan.

* * *

Namanya Markus. Sehari-hari, saya sapa Om Markus. Om Markus ini, 4 tahun lalu, masih tinggal berdekatan dengan kami. Tetangga. Berkat rejeki, mereka pindah rumah, tapi masih sering bertemu. Baru-baru ini, saya kembali bersua dengannya. Kami berbagi cerita.

“Anak Muda, tidak ke sekolah?”

“Kami online, Om Markus. Kalau ada urusan penting, baru ke sekolah!”

“Bagaimana? Masih ojek?”, saya lanjut.

Aeeee………….. Istirahat. Sudah hampir 7 bulan ini, saya berhenti. Penumpang makin sulit didapat. Orang Bajawa macamnya takut semua, sekarang!”

Meski nadanya santai sembari melempar senyum, saya menangkap sesuatu yang jelas beda. Om Markus tidak sedang bercerita tentang sesuatu yang biasa, yang normal. Ada sesuatu yang melampaui ke-normal-an keseharian kita.

“Lalu, Om Markus kerja apa saja selama ini, kalau tidak ojek lagi?”

“Yah, ke kebun, iris moke!”

“Syukurlah, Om. Setidak-tidaknya, masih ada hal baik yang tetap dikerjakan. Bagaimana, moke laku?”

“Ahhh… kalau moke, pasti laku. Kadang orang cari ke rumah, saat kami sudah tidur. Kadang juga langsung ke kebun, kalau butuh banyak!”

* * *

Kita, hampir setahun ini, hidup dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.  

Tahun-tahun sebelumnya, saat orang mengenakan masker, kadang disinis, “Tutup mulut kenapa? Ada bau yang tidak sedap di antara kami?”

Saat ada yang duduk agak menjauh, selalu dianggap tak tahu bergaul dan introver.

Saat ada yang tak bersalaman plus cium tangan, dibilang tidak sopan, tidak santun, tidak menghargai orang tua.

Saat ada yang jarang keluar rumah, dikatai tak pandai bermasyarakat, tak punya Social Quotient (SQ).

Saat ada yang cuci tangan sebelum makan, diledeki duta kesehatan dunia, sok-sokan jaga kebersihan.

Hampir setahun ini, semuanya terbalik.  

Yang tak mengenakan masker akan ditegur bahkan diusir. Jangan duduk berdekatan, dilarang keras perpelukan.

Salaman langsung hand to hand, benar-benar dibatasi. Terlalu sering keluar rumah, dicurigai akan kembali dan membawa petaka.

Tidak mencuci tangan, akan diperintah untuk segera melakukannya, meskipun bukan untuk urusan makan-minum.Covid-19, Saudari-saudara, bukan sekadar urusan kesehatan. Kelak akan – dan sekarang telah mulai – kita sadari, pandemi global ini melabrak tepat pada soal sejarah.

Yah, Covid-19 telah berhasil membalikkan sejarah.

Sejarah mencari makan yang menjadi ciri primordial-historis manusia, berubah menuju sejarah mencari masker. Sejarah manusia yang tak lain sejarah berkumpul, berbalik menuju sejarah jaga jarak. Air bersih tak lagi dicari hanya untuk diminum, tetapi juga untuk mencuci tangan.

Belum lagi sektor-sektor yang lain. Ekonomi ambruk, pariwisata anjlok, agenda-agenda pendidikan berubah drastis, lahar kerja banyak ditutup, PHK menjadi mimpi buruk.

Hampir setahun ini, kita hidup dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Malah, amat tidak baik.

* * *

Meski nadanya santai sembari melempar senyum, saya menangkap sesuatu yang jelas beda. Om Markus tidak sedang bercerita tentang sesuatu yang biasa, yang normal. Ada sesuatu yang melampaui ke-normal-an keseharian kita.

Om Markus adalah kita. Kita yang sering dilema. Kita yang kerap bingung. Kita diminta bekerja dari rumah, pada saat yang sama, infrastruktur teknologi belum memadai.

Baca Juga: Menengok Hikmah dari Sebuah Wabah

Tugas-tugas sekolah harus dikirim tepat waktu, jaringan internet suka main kucing-kucingan. Kadang muncul, tapi kadang hilang, seperti cinta.

Kita diwajibkan mengenakan masker, pejabat-pejabat sendiri sering abai akan itu. Air untuk cuci tangan dianjurkan ada di tiap-tiap rumah, pipa-pipa yang dipasang dengan mengorbankan tanaman kita, bagaikan rangka robot kering yang entah kapan mengalirkan kehidupan.

Kita terjebak dalam kredo baru: asal tangan dicuci, dahaga tak jadi soal.

Om Markus adalah kita. Makhluk dilematis. Makluk yang sering dihantui kebingungan. Awal-awal pandemi global ini menyerang, kita ditegaskan untuk tak boleh keluar rumah. Menjelang Pilkada, negara mengajak untuk jangan lupa ke TPS.

Negara, kadang-kadang, tidak peduli pada rakyatnya sendiri. Negara lebih peka pada nasib para pencari kerja bernama politisi.

Kita adalah Om Markus. Kita mau tak mau harus mencari alternatif untuk survive, pada saat yang sama, bansos dikorupsi oleh menteri.

Kita, Saudari-saudara, rupanya tengah mengalami dilema paling besar seumur hidup kita. Sejarah berubah, psikologi global berbalik arah. Kita panik. Kita waspada. Kita juga masa bodoh. Kita juga cuek.

Situasi kita sedang sulit, sangat sulit. Dilema paling besar seumur hidup kita, sedang kita rasakan. Bukan saja oleh karena Covid-19, tapi juga oleh karena politik, oleh karena ketololan, oleh karena ke-buat-diri-hebat-an kita sendiri. 

 

Oleh: Reinard L. Meo

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Reinard L. Meo


Spread the love