Spread the love

“Langit adalah kenisah,

bumi adalah altar

di atasnya manusia merayakan ekaristi kehidupan”

-Leo Kleden-

Pada hakikatnya semua manusia akan mati. Kematian merupakan fakta yang tak terbantahkan dan sebaliknya mesti diterima sebagai hal yang mutlak terjadi.

Singkatnya, ketika manusia hidup, ia berdampingan dengan kematian.

Meski kematian sering kita saksikan dalam hidup setiap hari, kematian selalu menjadi pertanyaan yang tak mudah untuk memperoleh jawabannya.

Kita tak mampu melacak di mana keberadaan dari kematian itu dan di mana kematian itu berdiam.

Kematian adalah misteri yang sulit terungkap. Berhadapan dengannya, manusia hanya pasrah.

Dalam konteks iman, kematian mesti dipandang sebagai rahmat yang patut disyukuri karena melaluinya manusia dapat bersatu kembali dengan Allah, Sang Pencipta; sebuah peristiwa yang membawa manusia kepada kehidupan yang kekal.

Oleh karena itu, salah satu cara menghayati eksistensi manusia adalah dengan merenungkan kematian.

Mengapa? Di hadapan mautlah teka-teki kenyataan manusia mencapai puncaknya.

Baca Juga: Hidup dalam Bayang-Bayang Fatukoa

Segala kerisauan manusia, kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan manusia terjawab. Apa yang selama ini bungkam, di hadapan kematian menjadi terungkap.

Aktus “merenungkan kematian” mesti dibuat sebab kita memiliki keyakinan dasar ini: semua manusia yang dilahirkan akan mengalami kematian.

Saat ini, kita sementara menuju ke penghujung tahun 2021. Ada banyak kisah yang kita lewati. Dalam tulisan ini, saya mengajak kita semua untuk bersama-sama merenungkan makna kematian dalam hidup sehari-hari sebagai salah satu kisah yang mewarnai hidup kita sepanjang tahun ini, serentak merefleksikan pandemi Covid-19 yang merenggut begitu banyak nyawa saudara-saudari kita.

Dalam tulisan ini juga, saya hendak merenungkan kematian dalam perspektif ajaran Gereja Katolik. Istilah “ekaristi” yang digunakan merujuk pada sebuah perayaan syukur yang dijalankan oleh orang-orang Kristen untuk mengenangkan sengsara, wafat, dan kebangkitan Sang Juru Selamat, Yesus Kristus.

Perihal Kematian

Menurut data statistik, setiap detik rata-rata ada 2 (dua) orang manusia yang meninggal secara normal, baik karena usia lanjut maupun karena suatu penyakit.

Hal ini berarti bahwa dalam satu menit rata-rata ada 120 orang yang meninggal secara normal, dalam satu jam rata-rata ada 7.200 orang yang meninggal secara normal, dalam satu hari rata-rata ada 172.800 orang yang meninggal secara normal, dalam satu minggu rata-rata ada 1.209.600 orang yang meninggal secara normal, dalam satu bulan rata-rata ada 4.838.400 orang yang meninggal secara normal, dan dalam satu tahun rata-rata ada 58.060.800 orang yang meninggal secara normal.

Data statistik ini baru mengenai orang yang meninggal secara normal, baik karena usia lanjut maupun karena suatu penyakit. Data statistik ini belum mengenai orang yang meninggali secara abnormal  (misalnya mati karena kecelakaan, kebakaran, pembunuhan, bencana alam, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya).

Jadi, jika dihitung juga orang-orang yang mati secara abnormal, tentu jumlah angka statistik ini akan bertambah besar. Kalau jumlah orang yang mati secara normal saja sudah mencapai sekitar 58.000.000 per tahun, maka ditambah dengan orang yang mati secara tidak wajar (ditambah lagi dengan wabah virus korona), jumlahnya akan mencapai sekitar 60.000.000 per tahun.

Dalam kenyataan hidup manusia sehari-hari, selama masih sehat, jarang sekali orang berpikir mengenai saat kematiannya. Padahal setiap detik kematian datang untuk menjemput rata-rata 2 (dua) orang, tanpa dapat dihindari oleh siapapun.

Jadi, setiap kali kita melewati satu detik, kita patut bersyukur kepada Tuhan, karena kita belum termasuk di antara 2 (dua) orang yang dijemput oleh maut. Dan setiap kali kita melewati satu tahun, kita pantas bersembah sujud kepada Tuhan, sebab kita belum terhitung di antara 60.000.000 orang yang harus meninggal.

Manusia: Makhluk Fana

Sampai titik ini, pertanyaannya adalah: mengapa manusia bisa mati?

Manusia adalah makhluk rapuh/fana yang tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Kita bisa lihat jejak huruf M di telapak tangan kita masing-masing. Para ahli palmistry (pembaca rajah tangan) menafsirkan kematian manusia dari huruf tersebut. Huruf M tersebut merupakan singkatan dari bahasa Latin Mortis  yang artinya mati.

Pandangan ini menghantar kita kepada suatu refleksi yang mendalam akan faktum kematian dan menyadarinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dan selalu berdampingan dengan kehidupan manusia.

Bahwasanya ketika setiap hari melangkah untuk mempertahankan hidup, di saat bersamaan kita sedang berarak mengakrabkan diri ke arah kematian. Dengan ini menjadi jelas, salah satu cara menghayati eksistensi manusia adalah dengan merenungkan kematian.

Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian adalah “pintu” untuk beralih dari hidup yang fana menuju hidup yang abadi. Maka, kebangkitan menjadi keyakinan iman yang sangat kuat.

Jika tidak ada kebangkitan, kematian menjadi akhir dan sia-sialah iman kita. Dan, berhadapan dengan kebangkitan, kita tidak bisa membangkitkan diri sendiri.

Hanya Tuhanlah yang mampu melakukan-Nya. Maka, penyerahan diri yang total dalam iman yang hidup selama menjalani kehidupan di dunia menjadi jaminan kebangkitan kita.

Gereja Katolik percaya akan adanya “purgatorium” (api penyucian) bagi jiwa yang telah meninggal, yang pada saat kematiannya belum sempurna dalam keadaan suci untuk bertatapan muka dengan Allah dalam kebahagiaan surga.

St. Thomas Aquinas pernah mengatakan bahwa berhadapan dengan wajah Allah yang Mahakudus, jiwa yang belum benar-benar bercahaya akan dimurnikan terlebih dahulu. Seperti emas yang dimurnikan dalam tanur api, demikian pula jiwa yang belum sempurna harus dimurnikan sebelum “layak” menghadap Allah di Surga.

Merenungkan Kematian

Merefleksikan kehidupan dan kematian berarti ketika kita bersukacita atas setiap kehidupan, saat yg sama kita mesti dgn hati yang terbuka menerima kematian.

Kematian itu akrab dan dekat dengan kehidupan kita. Oleh karenanya, salah satu cara menghayati eksistensi manusia adalah dengan merenungkan kematian.

Merenungkan kematian adalah jalan-jalan sunyi untuk merefleksikan bahwa kita adalah manusia rapuh dan fana, serentak sadar bahwa yang abadi adalah kebajikan-kebajikan kristiani yang kita lakukan setiap hari. Kita adalah fana; yang abadi adalah kebajikan.

Pertanyaannya: Bagaimana menjalankan kebajikan-kebajikan kristiani itu?

Kita diajak, seperti penegasan Dr. Leo Kleden di bagian awal, untuk “merayakan ekaristi kehidupan”. Itu artinya, kita sepatutnya menjadi manusia ekaristis; manusia yang siap untuk diambil/dipilih, diberkati, dipecah-pecahkan dan dibagikan.

Dalam buku “Diambil, Diberkati, Dipecah, Dibagikan: Spiritualitas Ekaristi Dalam Dunia Sekuler (Life of The Beloved)”, Henri J.M Nouwen menulis dengan sangat apik mengenai hal ini.

Baca Juga: Menengok Hikmah dari Sebuah Wabah

Sejak kekal, di awal mula, jauh sebelum kita lahir dan menjadi bagian dari sejarah, kita sudah ada di hati Allah. Jauh sebelum orangtua mengagumi kita, sahabat dan teman-teman mengakui bakat dan talenta kita, atau guru, atau rekan kerja memuji kita, kita sudah dipilih.

Mata kasih Allah telah melihat kita sebagai yang bermartabat, sebagai keindahan tanpa batas dan bernilai abadi. Kita adalah orang-orang yang diambil/dipilih oleh Allah dengan segala keunikan diri karena kita dipanggil sebagai pribadi yang dikasihi sejak abadi dan dipelihara dalam pelukan kasih-Nya yang tidak akan berakhir.

Ketika kita sudah dipilih oleh Allah kita hendaknya membawa dan menjadi berkat bagi orang lain, khususnya bagi mereka yang diliputi rasa cemas dan takut akan hidup.

Berkat lebih dari sekadar kata-kata pujian atau penghargaan; lebih dari sekadar menunjukkan bakat-bakat seseorang atau perbuatan-perbuatan baiknya.

Memberi berkat berarti meneguhkan atau mengakui bahwa orang lain adalah wajah saya yang lain.

Berkat jauh melampaui perbedaan antara kekaguman dan celaan, antara keutamaan dan cacat cela, antara perbuatan baik dan perbuatan buruk.

Berkat menyentuh kebaikan dasar yang dimiliki oleh orang yang diberkati, serentak menyadarkan orang itu bahwa dirinya adalah pribadi yang dikasihi Allah.

Dan, lebih dari itu, memberi berkat berarti membuat yang diucapkan menjadi kenyataan.

Sebagai manusia, kita sering menyaksikan penderitaan dan kesusahan di sekitar kita. Pada titik nadir inilah, sebagai pribadi, hidup kita mesti dipecah-pecahkan bagi mereka yang menderita. Kita turut hadir dan terlibat untuk merasakan penderitaan yang orang lain alami.

Dan akhirnya, kita dipilih, diberkati, dan dipecah-pecahkan untuk dibagikan. Dengan dibagi-bagikan menjadi jelas bahwa kita dipilih, diberkati, dan dipecah-pecahkan tidak hanya demi diri kita sendiri melainkan agar semua yang kita hidupi mendapatkan makna yang sepenuhnya karena semua itu kita hidupi bagi orang lain.

Kita diajak untuk hidup sebagai manusia ekaristis yang yakin bahwa berhadapan dengan kematian, manusia memperoleh hidup yang kekal yang tak akan pernah mati lagi.

Marilah kita bertindak dan berlaku sebagai manusia ekaristis yang hidup dengan harapan-harapan yang tidak takut gagal.

Kris Ibu

 

Oleh: Kris Ibu

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Kris Ibu


Spread the love