Spread the love

Dalam beberapa pekan terakhir, dunia dikejutkan dengan munculnya coronavirus. Sejak kemunculannya secara misterius pada pertengahan bulan lalu di wilayah Wuhan, China, kini, dalam laporan terbaru coronavirus telah menewaskan sedikitnya 17 orang dan menginfeksi setidaknya 571 orang diseluruh dunia dengan sebaran terbanyak di Hong Kong, Thailand, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan yang terbaru telah mencapai Amerika.

Prevalensi kasus yang meluas ini jelas mengkhawatirkan, terutama, bagi kita di Indonesia yang memiliki kebijakan luar negri yang amat erat dengan China dan beberapa Negara Asia lainnya serta membentuk jalur migrasi alamiah yang besar untuk beragam keperluan dan tujuan.

Menjelang Tahun Baru Imlek, ada kekhawatiran yang berkembang tentang progresivitas penyebaran virus ketika ratusan juta orang melakukan perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lainnya untuk perayaan Tahun Baru Imlek, yang dimulai pada hari ini (Jumat 25/01/2020).

Wabah cluster virus pneumonia baru-baru ini karena serangan coronavirus di China telah menimbulkan ancaman signifikan bagi kesehatan masyarakat internasional dan mungkin terkait dengan penjualan hewan liar sebagai makanan di pasar rakyat. Hingga hari ini, WHO terus memantau perkembangan kasus yang ada dan tidak menutup kemungkinan untuk dinaikan statusnya menjadi bahaya kesehatan global.

Langkah cepat otoritas kesehatan China dalam upaya mengatasi masalah melalui pengawasan intensif, penyelidikan epidemiologis, dan penutupan pasar rakyat sejak 1 Januari yang lalu meski mendapat pujian internasional dan banyak pakar, tetap saja bukan akhir dari penyelesaian masalah.

Kita tentu ingat soal kasus SARS yang  dengan cepat menyebar dari China selatan pada kurang lebih dua dekade yang lalu yaitu pada tahun 2003 yang menginfeksi lebih dari 3000 orang, membunuh 774 pada tahun 2004, dan kemudian menghilang—tidak pernah terlihat lagi.

Apa itu coronavirus?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, coronavirus adalah keluarga virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) dan sindrom pernapasan akut (SARS).

Virus ini ditularkan dari hewan ke manusia. SARS, misalnya, diyakini telah ditularkan oleh kucing luwak ke manusia, sementara MERS ditularkan oleh unta ke manusia.

Coronavirus yang menyebabkan penyakit pada manusia ditemukan dalam dua jenis yaitu alphacoronaviruses (HCoV-229E, HCoV-NL63) dan betacoronavirus (HCoV-HKU1, HCoV-OC43, dan coronavirus yang terkait dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)). 

Pada 2012 yang lalu, sebuah betacoronavirus novel tambahan diidentifikasi sebagai penyebab penyakit Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) yang menyerang manusia.

Jenis coronavirus manusia yang umum adalah 229E, NL63, OC43, dan HKU1 yang biasanya menyebabkan penyakit saluran pernapasan bagian atas ringan hingga sedang seperti flu biasa dan beberapa coronavirus yang dikenal beredar pada hewan yang belum dapat menginfeksi manusia.

Para ilmuwan China mampu mengisolasi 2019-nCoV dari seorang pasien dalam waktu singkat pada 7 Januari 2020,—dua  minggu setelah serangan pertama muncul dan melakukan sekuensing genom 2019-nCoV. Urutan genetik 2019-nCoV telah tersedia untuk WHO pada 12 Januari 2020 dan ini telah menjadi dasar rujukan laboratorium di berbagai negara untuk melakukan tes PCR diagnostik spesifik dalam mendeteksi adanya kemungkinan kasus infeksi baru.

Jenis virus 2019-nCoV adalah β CoV kelompok 2B dengan setidaknya memiliki 70% kesamaan dalam urutan genetik dengan SARS-CoV dan dinamai 2019-nCoV oleh WHO sebagi jenis baru coronavirus yang sebelumnya tidak pernah teridentifikasi terjadi pada manusia.

Sejauh ini, hanya sedikit yang dapat diketahui tentang virus ini, meskipun begitu, penularan dari manusia ke manusia telah dikonfirmasi telah terjadi di China dari pasien kepada petugas kesehatan. Hal ini tentunya akan menjadi pertanda buruk bagi komunitas masyarakat global.

The Centers for Disease Control and Prevention memperkirakan penyebaran virus ini terjadi melalui saluran  pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin—mirip dengan bagaimana influenza dan patogen pernapasan lainnya menyebar dan menyerang manusia. 

Dari China dilaporkan bahwa asal mula virus, teridentifikasi berasal dari pasar makanan laut di daerah Wuhan, di mana satwa liar seperti ular kobra yang diperdagangkan secara ilegal tanpa kontrol yang memadai.

Bagaimana tanda dan gejala penyakit coronavirus?

Menurut WHO, tanda-tanda infeksi coronavirus termasuk gejala pernapasan, demam, batuk, sesak napas dan kesulitan bernafas. Dalam kasus yang lebih parah, dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan kematian.

Dalam kasus 2019-nCoV yang ditemukan di China, gejalanya meliputi demam (> 90% kasus), malaise, batuk kering (80%), sesak napas (20%) dan gangguan pernapasan (15%). Tanda-tanda vital seperti nadi, suhu, dan tekanan darah stabil di sebagian besar kasus sementara leukopenia dan limfopenia sering terjadi.

Di antara 41 kasus, enam pasien telah dipulangkan, tujuh pasien dalam perawatan kritis dan satu meninggal, sementara sisa pasien lainnya berada dalam kondisi stabil. 

Kasus fatal dilaporkan terjadi pada seorang pria berusia 61 tahun dengan penyakit penyerta tumor perut dan sirosis yang dirawat di rumah sakit karena kegagalan pernafasan dan pneumonia berat. 

Diagnosis yang umum terjadi karena serangan coronavirus di China adalah pneumonia berat, sindrom gangguan pernapasan akut, syok septik dan kegagalan multi organ. Meski begitu, Infeksi 2019-nCoV di Wuhan tampak secara klinis lebih ringan daripada SARS atau MERS secara keseluruhan dalam hal tingkat keparahan, tingkat kematian kasus dan penularan,

Sejauh ini, menurut para ahli, 2019-nCoV mungkin tidak mematikan seperti beberapa jenis virus corona seperti SARS, yang menewaskan hampir 800 orang di seluruh dunia selama wabah 2002-2003 yang juga berasal dari China. Ataupun MERS, yang dalam laporan membunuh sepertiga dari mereka yang dinyatakan terinfeksi.

Bagaimana menangani kasus 2019-nCoV?

Sampai saat ini, upaya penanganan kasus 2019-nCoV hanya diarahkan pada upaya pencegahan karena 2019-nCoV belum memiliki vaksin maupun obat yang spesifik.

WHO sendiri telah mengeluarkan beberapa langkah pencegahan, yang hendaknya juga dapat kita perhatikan bersama, mengingat sifat virus ini yang masih misterius sejak awal dan dengan cepat menyebar.

Baca Juga: Bahaya Pestisida di Ngada dan Pemerintah yang Tidak Cakap

Pertama, untuk masyarakat yang mengalami gejala demam, batuk, sesak nafas dan baru kembali dari negara terjangkit dalam 14 hari sebelum sakit, agar segera berobat ke Puskesmas/RS terdekat. Berikan informasi secara detail kepada dokter dan tenaga kesehatan tentang riwayat perjalanan.

Kedua, terapkan etika batuk (menutup mulut/hidung saat bersin atau batuk dengan menggunakan tisu) 

Ketiga, gunakan selalu masker jika menderita sakit dengan gejala infeksi saluran napas (demam, batuk dan flu) dan segera berobat.

Keempat, sering mencuci tangan terutama setelah batuk atau bersin, sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah menggunakan toilet dan setelah merawat binatang.

Kelima, cuci tangan dengan air mengalir dan sabun serta bilas kurang lebih 20 detik. Jika tidak tersedia air, dapat menggunakan cairan pembersih tangan yang mengandung alkohol 70-80%.

*) Gagasan kolumnis ini adalah sepenuhnya tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi

Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage

 

Baca juga tulisan lain di kolom Gagasan atau tulisan menarik lainnya dari  Petrus Kanisius Siga Tage

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Spread the love