Spread the love

Blackpink, girl band K-Pop dengan puluhan juta, atau mungkin ratusan juta penggemar (mereka memiliki 60,6 juta subscribers di youtube pada 1 Mei 2021.

Tapi, saya curiga ada lebih banyak penggemar yang belum berlangganan. Sebab salah satu video musik mereka bahkan dilihat 1,2 miliar kali), di seluruh dunia itu baru-baru ikut mengampanyekan isu perubahan iklim.

Dalam sebuah video berjudul Calling All Blinks: Climate Action In Your Area! #COP26, Blackpink berbicara untuk meningkatkan kesadaran para penggemar mereka (Blackpink Fandom), “Blink”, menjelang KTT Iklim PBB, COP26, yang mana akan berlangsung di Glasgow, November 2021.

Every year, we’re seeing more extreme weather—things like heatwaves, droughts and flooding, kata salah satu personel Blackpink, Jennie, dalam video tersebut.

Blackpink mengakui bahwa mereka bukanlah ahli untuk berbicara terkait iklim, tetapi mereka ingin mengajak Blinks di seluruh dunia untuk sama-sama belajar lebih banyak dan peduli dengan kondisi planet bumi.

Blackpink tampaknya bukanlah kelompok yang mempunyai concern terhadap isu lingkungan hidup sebelumnya. Agak beberapa dengan superstar lain, seperti Leonardo DiCaprio atau Coldplay yang telah lebih dulu memulai. Di mana selain profesi mereka sebagai artis, mereka juga banyak terlibat aktivisme lingkungan.

DiCaprio telah bekerja untuk memberikan perhatian dan pendanaan bagi perlindungan keanekaragaman hayati, konservasi laut, dan perubahan iklim. Dia bahkan mendirikan Leonardo DiCaprio Foundation yang mendukung lebih dari 35 proyek konservasi inovatif di seluruh dunia untuk melindungi ekosistem yang rentan dan spesies kunci.

Semenatara Coldplay berenti melakukan tur dunia untuk mempromosikan album terbarunya yang rilis 2019 lalu, dengan alasan masalah lingkungan. Band asal Inggris tersebut mengatakan tidak akan melakukan tur lagi sampai pertunjukan dapat dilakukan dengan cara yang berkelanjutan. We would be disappointed if it’s not carbon neutral, kata vokalis Chris Martin kepada BBC News (21/11/2021).

Namun bukanlah masalah, meskipun baru memulai, secara potensial Blackpink mempunyai posisi yang kuat untuk mempengaruhi puluhan juta orang. Yang mana jika setiap orang bisa membuat langkah kecil saja, itu bisa membawa impact yang besar.

Di tingkat tapak, para penggemar Blackpink maupun K-Pop Fandom secara umum, telah bergerak. Kegiatannya dari menggalang penandatangan petisi untuk menyelamatkan hutan hingga pengumpulan dana (fundraising) untuk korban bencana.

Di Indonesia, K-Pop Fandom bergerak untuk mengumpulkan hampir 100.000 USD pada bulan Januari 2021 untuk korban banjir di Kalimantan Selatan dan gempa bumi dahsyat di pulau Sulawesi.

Tahun lalu, K-Pop Fandom Indonesia juga menggerakkan kampanye online untuk menyoroti deforestasi yang cepat di Papua, dengan membagikan tagar #SavePapuanForest di media sosial dan menjadikannya trending topic di Twitter.

Nyatanya K-Pop Fandom yang jumlahnya sangat banyak di dunia, diperkirakan mencapai ratusan juta, telah muncul sebagai kekuatan baru dalam perang global melawan perubahan iklim.

Aggota K-Pop Fandom kebanyakan adalah milenial dari generasi Gen-Z. Mereka muda dan paham teknologi. Mereka sangat aktif menggunakan kekuatan media sosial untuk melakukan tujuan politik, termasuk memobilisasi dana untuk gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat tahun lalu dan mendukung protes pro-demokrasi Thailand.

Gerakan sosial K-Pop Fandom yang berusaha membuat perubahan bagi alam dan iklim tentu suatu hal positif. Namun ada tantangan besar yang perlu diharmonisasikan dengan kegiatan K-Pop Fandom itu sendiri.

Ada masalah ketidak-berkelanjutan dalam praktik pembelian album oleh K-Pop Fandom. Para penggemar memiliki keinginan besar dalam membeli album atau tiket konser untuk memenangkan kesempatan menghabiskan waktu berdua dengan idola mereka di sesi tanda tangan, atau “tanda penggemar”.

Mereka akan membeli lebih banyak –bahkan bisa lusinan hingga ratusan— album yang sama untuk meningkatkan peluang personal dipilih bertemu idola dalam pengundian. Maka terjadilah pemborosan album yang tidak perlu yang ujungnya menjadi limbah lingkungan.

Baca Juga: Normal Baru dan Pembangunan Berprespektif Lingkungan

Sebelum pandemi, tanda-tanda penggemar ini diadakan secara langsung dan jumlah penontonnya terbatas. Ketika virus Corona menghentikan siaran langsung, sesi tanda tangan dipindahkan secara online, yang berarti penggemar di mana pun di dunia dapat mengambil bagian. Perluasan distribusi album bertanda tangan (dan juga repetitif) bagi para penggemar menimbulkan biaya lingkungan tambahan.

Ada masalah yang cukup kompleks dalam industri penjualan album, yang mana itu berperan untuk membuat artis masuk tangga lagu. Sementara tanda penggemar membantu meningkatkan profit artis.

Selain itu, banyak barang dagangan (marchandise) K-Pop adalah barang koleksi yang terbuat dari plastik sekali pakai, dan pasar yang sangat menguntungkan untuk penjualan marchandise tersebut telah berkembang berkat media sosial. K-Pop Fandom menunjukkan dukungan mereka kepada idola melalui konsumerisme performatif. Konsumsi yang mencolok telah menjadi dominan.

Salah satu produk unik K-Pop adalah light stick plastik. Masing-masing artis punya sendiri. Penggemar menyukainya, dan mengacungkannya di konser dan acara langsung. Tetapi penggunaannya terbatas, sehingga mereka tidak memiliki kualitas penggunaan ulang dan sering diganti dengan versi baru setiap kali artis meluncurkan tur.

Dewasa ini, perusahaan K-Pop seperti SM Entertainment dan Big Hit Entertainment menawarkan pengiriman global untuk pembelian merchandise baru secara acak.  

Perusahaan hiburan korea tersebut meningkatan kolaborasi mereka dengan rumah mode dan merek konsumen lainnya. Dan tentunya semua ini, seperti konsumerisme pada umumnya, memiliki biaya lingkungan.

Selain pembelian merchandise, cara streaming K-Pop Fandom pun memiliki berdampak negatif terhadap lingkungan. Fandom mempromosikan streaming massal kepada anggotanya, seringkali selama berjam-jam, jika tidak berhari-hari, pada suatu waktu, untuk membantu artis favorit mereka menaiki tangga musik dan mendapatkan lebih banyak pengakuan –yang tentunya membutuhkan banyak penggunaan listrik.

Baca Juga: Bumi Sebagai Common Home

Terkadang streaming farms (layanan boost musik artifisial pada platform pemutar lagu) diatur untuk melakukan streaming musik berulang kali guna menaikkannya ke tangga lagu –sebuah proses yang disebut sajaegi.

Memang sulit untuk mengukur biaya yang ditimbulkan oleh layanan streaming yang tidak efisien terhadap lingkungan, tetapi sebuah penelitian menunjukkan, belum pernah sebelumnya dalam sejarah begitu banyak energi yang digunakan untuk musik.

Dalam buku Decomposed: The Political Ecology of Music (2019), Kyle Devine, profesor musikologi Universitas Oslo menjelaskan, bagaimana musik sering dilihat sebagai bentuk non-material seni, tetapi menuntut korban dalam bentuk penggunaan energi.

Jika dikaji lebih dalam lagi, maka akan kian Nampak bahwa aksi konkret mengatasi masalah iklim memang tidak seeuforia mengampanyekannya.

Mungkin para K-Pop Fandom yang kini memiliki perhatian terhadap iklim mulai menyadari masalah itu, namun disitulah konsistensi gerakan peduli iklim yang mereka kampanyekan diuji.

*) Gagasan kolumnis ini adalah sepenuhnya tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi

Alek Karci Kurniwan

 

Oleh: Alek Karci Kurniwan

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Gagasan atau tulisan menarik lainnya dari Alek Karci Kurniwan


Spread the love