Spread the love

Pandemi virus corona disease atau lebih dikenal Covid-19 yang melanda dunia, telah mengubah kelas-kelas konvensional ke kelas maya.

Kelas konvensional adalah kelas reguler dengan metode tatap muka sebagai andalannya dan dapat dilaksanakan di luar jaringan internet (luring).

Sedangkan kelas maya adalah kelas virtual yang dilaksanakan dalam jaringan (daring).

Sebenarnya beberapa guru telah mencoba menggunakan pembelajaran campuran atau blended learning yang hasilnya sangat mendukung pembelajaran yang efektif.

Beberapa kelas di universitas terbuka dan beberapa lembaga bimbel telah melaksanakan pembelajaran daring dengan mencoba memaksimalkan penggunakan teknologi untuk membantu.

Pendemi Covid-19 telah memaksa pembelajaran luring menjadi pembelajaran daring dengan memanfaatkan teknologi dan internet.

Pembelajaran luar jaringan ini adalah pembelajaran konvensional yang rutin dijalankan. Sedangkan pembelajaran daring dapat terlaksana dengan bantuan teknologi.

Teknologi menjamin keberlangsungan proses belajar mengajar dengan menjembatani secara praktis dan fleksibel, pendekatan yang lebih sesuai, pengalaman belajar yang menyenangkan, lebih personal, hemat waktu dan biaya, mudah didokumentasikan, ramah lingkungan, dan dapat menjadi alternatif selama penjarakan sosial.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa peradaban manusia sedemikian tingginya.

Perubahan global dan letak geografis yang rawan bencana memang memaksa pembelajaran daring mudah dilaksanakan dan murah.

Tentu saja pembelajaran daring ini  bukan tanpa kendala. Ada beberapa kendala yang dihadapi antara lain:

(1) Guru. Masih banyak guru yang belum mampu memanfaatkan IT untuk pembelajaran. Hal ini dibenarkan oleh KPAI seperti dilansir di lamannya.

(2) Banyaknya tugas yang tumpang tindih. Misalnya tugas membuat video dalam dua hari, padahal ada paling sedikit 14 mata pelajaran yang dihadapi anak.

Masih dari laman KPAI, ada pengadu yang bercerita kalau teman-temannya datang ke rumah karena tidak punya cukup kuota untuk mendengarkan materi dari guru.

Hal ini jadi kontradiktif dengan tujuan belajar di rumah, yaitu menghindari siswa bertemu banyak orang.Peran Orang Tua Dalam Pembelajaran DaringMasalah lainnya orangtua siswa mengeluh anaknya yang masih kelas 3 SD setiap hari mendapat 40-50 soal yang harus dikumpulkan hari itu juga.

Seorang siswa 7 SMP mengaku mengerjakan soal terus menerus dari pukul 7 pagi sampai 5 sore.

Saat dihitung, jumlah soal yang ia kerjakan mencapai 255. Hal ini dimuat dalam laporan Tirto.

(3) Ketersediaan sarana prasarana yang memadai.

Orangtua wajib menyiapkan ruang belajar seperti ruang kelas dengan segala kebutuhannya.  

Pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengajak semua pihak termasuk orang tua, guru, dan murid untuk bersinergi mengoptimalkan pembelajaran melalui penggunaan teknologi.

Pandemi Corona virus Disease (Covid-19) telah mengubah banyak pola dalam keseharian, termasuk mengharuskan pembelajaran jarak jauh berlangsung dari rumah (Kedaulatan Rakyat, 2 Mei 2020).

Hal ini dilakukan dalam upaya memutus mata rantai penyeberan virus Covid-19.

Pada kesempatan itu Nadim Makarim kembali mengingatkan peran sentral orangtua dalam pembelajaran daring

Peran sentral orang tua dalam melancarkan pembelaran daring antara lain:

(1) Mendukung program pemerintah  dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan berbagai macam perbaikan sistem pembelajaran.

Salah satunya inisiatif program Belajar dari Rumah melalui program TVRI bagi guru dan murid yang tidak memiliki kuota internet.

Baca Juga: Matematika dan Pembentukan Karakter

Setelah pandemi ini terjadi  perubahan dalam kehidupan di dunia. terjadi perubahan besar pada dua sektor sosial, yaitu pendidikan dan kesehatan.

Peranan teknologi akan segera mendominasi kedua sektor tersebut.

Teknologi secanggih apapun, inovasi sebesar apapun, tidak akan pernah menggantikan peran guru sebagai pendidik.

Kini guru dan orang tua dituntut supaya membiasakan diri dengan teknologi untuk mencari informasi dan berkomunikasi, ketika siswa harus melakukan belajar dari rumah.

(2) Menyediakan sarana prasarana berupa laptop atau handphone, menyediakan quota yang cukup, membimbing anak untuk memanfaatkan waktu dengan baik dan membantu belajar dan menyiapkan makanan atau vitamin yang cukup.

Peran orangtua dalam hal ini adalah menghadirkan ruang kelas ke ruang belajar keluarga.

Pentingnya sarana prasarana yang mendukung pembelajaran ini akan mengkondisikan anak untuk dapat belajar dengan nyaman.

(3) Orangtua perlu belajar  tentang teknik-teknik belajar, cara-cara memotivasi anak yang baik dan mendekatkan anak pada dunia ilmu pengetahuan, riset dan teknologi. Untuk menjalankan usaha tersebut orangtua bisa bertanya pada guru atau sumber lain.

Pada masa ini, sumber belajar banyak sekali misalnya internet, buku maupun komunitas sosial yang beragam. Dalam hal ini harus dibangun  sebuat tim yang solid antara orangtua dan guru.

Caranya adalah dengan menjalankan peran masing-masing secara maksimal, sekolah berupaya membangun komunikasi yang efektif dengan komite sekolah dan orangtua, memikirkan suatu wadah bersama yang dapat saling mengisi dan menguatkan, menyediakan sarana prasarana yang mudah dan murah.

Baca Juga: Peran Orangtua dalam Perkembangan Kognitif Anak

(4) Menjalankan  peran ganda sekaligus menjadi pendidik dan pengajar.

Sebelumnya peran orangtua lebih pada mendidik saja lantaran mengajar lebih diserahkan pada institusi pendidikan yaitu kepada guru.

Guru saat ini sangat mengharapkan peran orang tua untuk mendukung proses pembelajaran dan pendidikan. Hal ini disampaikan Mendikbud dalam wawancara telekonferensi dengan Najwa Shihab pada program Belajar dari Covid-19 yang disiarkan di TVRI dan Youtube Kemendikbud, Jakarta, Sabtu (2/5/2020).  

Guru dan orangtua diajak menjadi satu tim dalam upaya menyukseskan pendidikan nilai dan pembelajaran. Hal ini harus digalakkan terus menerus mengingat krisis seperti ini akan berulang baik dalam skala kecil maupun skala besar.

Pembelajaran masa Covid-19 adalah model yang harus dibangun secara ekspiriens sampai terciptanya iklim pembelajaran yang efektif dan efisien.

Mendikbud berpesan agar masyarakat melihat kondisi krisis akibat Covid-19 ini dari sisi positif sebagai sebuah pembelajaran penting yang berguna untuk masa depan.

(5) Membiasakan karakter religius dan sosial. Hal yang paling menonjol dari peran orangtua pada masa pandemi ini adalah dalam ranah sikap. Karena sikap sangat sulit jika diajarkan/dibiasakan melalui pembelajaran daring.

Sikap dalam hal ini mencakup sikap religius dan sikap sosial.  Contoh sikap  religus antara lain selalu bersyukur, menjalankan ibadah, membaca kitab suci dan berdoa.

Sedangkan sikap  sosial dapat ditunjukkan dengan kegiatan menolong oranglain, menghormati orangtua, memberi sedekah, kerjasama, kerja bakti lingkungan dan masih banyak lagi.

Sikap tidak diajarkan secara langsung tapi dilatih melalui pembiasaan.Teladan yang diberikan pada anak akan dicontoh.

Hal yang dapat dilakukan orangtua dalam mengajarkan sikap adalah melalui pembiasaan, pemberian nasihat, pengawasan, penghargaan dan hukuman (PPPPH).

*) Gagasan kolumnis ini adalah sepenuhnya tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi

Oleh: Maria Ernawati M. Tana

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Gagasan atau tulisan menarik lainnya dari Maria Ernawati M. Tana


Spread the love