Spread the love

Judul: I Daniel Blake
Tahun: 2016
Sutradara: Ken Loach
Rumah Produksi: Sixteen Films

***

Global financial crisis (GFC) yang melanda dunia pada lebih satu dekade yang lalu, telah memicu terjadinya resesi global (terutama dirasakan di wilayah Amerika Utara dan Eropa).

Pada saat itu GFC dianggap sebagai resesi global terburuk pada abad ke-21, meskipun, pada akhirnya dibayangi oleh Great Lockdown pada awal tahun 2020 ini.

Potret buruk kondisi ekonomi di masa GFC digambarkan dalam banyak cerita dan sudut pandang, salah satu diantaranya adalah melalui film I, Daniel Blake (IDB) (2016) yang menggasak dua katagori bergengsi Festival Cannes: Palme d’Or dan Palm Dog Manitarian Award pada tahun 2016 yang lalu.

Film ini dieksekusi oleh sutradara legendaris Ken Loach, sutradara film Inggris sayap kiri yang sangat dihormati dan malang melintang sebagai pembuat film berlatar kritik sosial yang bergelimang tragedi semacam  Poor Cow (1967), Cathy Come Home (1966), Riff-Raff  (1991), dan The Navigators (2001).

Saat menonton IDB kita akan selalu diingatkan bahwa Loach adalah seorang polemik yang selalu membela kelompok kelas pekerja,—yang dalam film-filmnya selalu digambarkan sebagai manusia tertindas, teraniaya, dan mereka juga adalah manusia yang mulia. 

Loach dan mitra penulis naskah setianya, Paul Laverty, adalah master dari clinical neorealism yang selalu melabrak dengan keras iklim politik konservatif, di mana ketika kelas  pekerja yang berjuang hanya sering dianggap sedikit lebih baik daripada sampah dan parasit sosial.

 

Lubang Besar Jaminan Sosial

Dalam adegan pembuka, Daniel Blake (Dave Johns), seorang duda dari Newcastle yang baru pulih dari serangan jantung diuji kesabarannya oleh seorang wanita yang menyebut dirinya seorang “profesional kesehatan”

Wanita itu mengajukan rentetan pertanyaan tentang kondisi tubuhnya. Dari lengan, jari-jarinya, ususnya, apa pun itu, kecuali masalah sebenarnya; bahwa ia sedang butuh jaminan sosial.

Kekesalan Daniel yang meningkat atas pertanyaan-pertanyaan konyol, yang sudah dia jawab di atas kertas, dengan cepat menjadi lelucon. 

Tetapi, meski begitu, tes ini, sangat penting bagi Daniel untuk mendapat rekomendasi apakah ia layak memperoleh jaminan sosial dari Negara atau tidak.

Dan, ditengah proses pemeriksaan, Daniel sang duda yang sakit, kesepian, dan menganggur ini, bertanya kepada petugas “Mengapa kamu tidak mau bertanya tentang hatiku?” tepat di sini, segala sesuatunya berubah menjadi pedih yang tak tertahankan. Laverty berhasil merangkum tragedi Daniel dengan skenario yang menyayat.

Setelah rangkaian penilaian yang menyebalkan, Daniel akhirnya ditolak untuk mendapatkan tunjangan sosial dari pemerintah dan sambil menunggu proses banding perbaikan pengajuan, dia harus menghabiskan hari-harinya dengan mencari pekerjaan yang cukup langka di tempatnya. 

Daniel, di ujung persoalannya, ia melihat bahwa dirinya bukan satu-satunya korban dari lelucon absurd ini. Di pusat pencarian kerja, ia justru bertemu seorang janda dari London, Katie (Hayley Squires), yang dipindahkan ke Newcastle karena kurangnya perumahan sosial di ibukota. London.

Krisis ekonomi yang berimbas pada menguapnya subsidi perumahan membuatnya harus pergi ke tempat di mana ia mesti hidup tanpa dukungan jaringan keluarga, kolega dan teman-temannya.

Karena dihantam oleh kondisi yang sama, Daniel dan Katie dengan cepat dapat menjadi teman: Daniel menjaga anak-anak Katie dan membantu memperbaiki flatnya—tempat tinggal Katie dalam kemiskinan. Sedangkan Katie mendukung Daniel ketika ia memperjuangkan tunjangan sosial.

Dalam salah satu adegan film yang paling mengharukan, Katie dan anak-anaknya mengajak Daniel berbicara tentang istrinya. Tepat di situ, Daniel merasa bahwa seseorang akhirnya bertanya tentang kondisi hatinya.

Daniel, oleh Loach digambarkan sebagai pedagang berusia 59 tahun yang berbicara kasar tetapi disukai di Newcastle, Inggris. Dia pulih dari serangan jantung yang serius dan hidup sendirian.

Tidak dapat bekerja, dia melakukan apa yang dilakukan oleh ribuan orang yang mengalami nasib seperti dirinya: mengajukan tunjangan dukungan sosial agar dapat membayar utang yang setidaknya sampai kesehatan mereka benar-benar pulih.

Mengisi formulir pengajuan sebetulnya dapat menjadi penghalang utama untuk mencegah orang-orang seperti Daniel—kelompok kelas pekerja miskin—dalam memperoleh bantuan sosial.

Pengajuan berkas berbasis daring yang menyulitkan dan petugas lapangan yang kehilangan hati nurani adalah dua, dari banyak kombinasi penyebab kelompok miskin terpaksa tidak mendapat manfaat dari skema bantuan yang disediakaan oleh Negara.

Ditolak untuk mendapat dukungan bantu sosial dari pemerintah, Daniel harus melamar pekerjaan dengan kondisi yang belum benar-benar pulih.

Protesnya secara resmi diabaikan Negara dan ia kehilangan semua dukungan. Di tengah perlakuan yang tidak manusiawi oleh birokrasi tanpa jiwa, Daniel mencoba membantu seorang ibu tunggal dengan dua anak kecil yang juga dihancurleburkan oleh sistem tunjangan sosial.

Katie (Hayley Squires), telah pindah dari sebuah asrama tunawisma, dan hidup dengan makanan hasil pembagian karena tunjangan sosialnya juga telah dihentikan. Dia menemukan “rumah” yang ditawarkan Daniel dan mandapat figur ayah dan kakek bagi anak-anaknya di tempat barunya yang asing itu.

Ditengah tekanan yang makin mendalam, Katie menemukan jenis pekerjaan yang mengejutkan Daniel, ia memilih menjadi pelacur, dan tentu saja ini merupakan pilihan terakhir bagi banyak orang yang ditinggalkan oleh sistem kesejahteraan sosial dengan lubang-lubang besar kebobrokan di jaring pengamannya.

Jebakan Negara Orwellian

Ini adalah film yang meresahkan yang akan dihadapi banyak penonton, terutama bagi mereka yang selalu berpikir bahwa mereka hidup dalam Negara yang peduli dan mendukung masyarakatnya yang membutuhkan bantuan, padahal dalam praktiknya justru jauh berbeda dan amat merusak.

Gerakan di masing-masing plot terkesan lambat dan dialognya sering singkat, tetapi begitulah kira-kira garis presisi yang berkelindan dengan kondisi kehidupan alamiah masyarakat.

Sinematografi yang tenang dan warna palet yang dibesut oleh Robbie Ryan terlihat seperti sedang menonjolkan kekaburan hidup masyarakat kelas bawah dalam tekanan krisis.

Diputar dengan sempurna, dua aktor utama mengisi peran mereka dengan suara otentik, mewakili orang-orang biasa yang tak terhitung jumlahnya, yang seringkali paling menderita pada masa-masa sulit dan Negara mengalami krisis.

Tidak ada kegembiraan dalam film ini, dan humor apa pun yang Anda temukan ada didalamnya tidak lebih dari sebuah upaya untuk membuat ceritanya dapat diterima. Humor bisa jadi adalah sinonim dari hidup yang nahas.

Baca Juga: Sesudah Memakan Simalakama

Narasinya yang terus bergerak berhasil mengugah sikap kepedulian sosial kita, bagaimanapun, IDB adalah film yang manarik kita untuk melihat dan mendengar lebih dekat tentang segala soal buruk dari Negara terhadap masyarakatnya yang paling rentan.

Privatisasi sumber pendanaan publik dan lembaga Negara yang disfungsional telah mendorong Negara jatuh dalam jebakan Politik Orwellian, sebagai upaya cuci tangan atau bahkan menekan desakan aspirasi politik warga.

Negara disajikan sebagai institusi yang dingin, jauh, tekno sentris, dan agak brutal. Fakta hidup yang suram dari kelompok masyarakat seperti Daniel atau Katie, seakan menggenapi seluruh ide ini.

Di kantor-kantor dukungan sosial, ada banyak fakta bahwa layanan sosial telah menjadi semakin diprivatisasi dan bekerja sebagai sarana akumulasi kapital borjuis besar, daripada menjadi barang milik publik yang mudah diakses dan berpihak pada masyarakat.

Dalam banyak potongan gambar, kita akan melihat tanda-tanda peringatan yang menginformasikan kontrol ketat yang dilakukan oleh Negara atas warganya yang protes melalui perluasan jangkauan area kamera pengawas.

Petugas keamanan hadir, bersuara lantang, dan amat percaya diri menghalau setiap upaya protes. Jumlah mereka menumpuk untuk membrengus setiap perlawanan, alih-alih bekerja untuk membantu masyarakat yang tersudutkan oleh situasi pelik

Memotret Wajah Kita

Keseluruhan potret IDB jika ditarik lurus dalam kondisi kita hari-hari ini sebetulnya ada presisi yang mirip, wabah korona yang terjadi telah mengirim orang ke dalam banyak masalah dan Negara hadir dalam wajahnya yang paling buruk dan suram.

Carut marut mitigasi wabah dipraktikan dengan gamblang dan tanpa malu-malu, sementara, sikap Negara alih-alih berupaya untuk menarik warganya keluar dari kubangan getah efek pandemi, justru, secara terbalik, Negara mengirim warganya untuk terbenam ke dalam kubangan.

Setelah berkali-kali mengabaikan data sains soal prediksi wabah, di level yang paling buruk Negara enggan hadir untuk menekan krisis ekonomi sosial yang terjadi akibat efek wabah.Bantuan sosial bergulir lamban, tidak merata dan seringkali salah arah.

Produk bernilai triliunan dari belanja Negara yang sering digembar-gemborkan oleh rezim sebagai skema tunjangan sosial semacam kartu pra kerja, misalnya, hanya menjadi ladang bisnis star up kapital kakap yang berkooptasi dengan Negara sebagai penyedia payung regulasi sesat.

Ruang kritik bagi kesemrawutan Negara dalam upaya penuntasan krisis dibredel dengan rupa-rupa regulasi yang mengancam.

Melalui militer dan polisi, Negara mengambil langkah represif dalam skala yang lebih besar untuk mengontrol gerak warganya.

Ruang-ruang publik yang mestinya berisi alat tes masal, tenaga kesehatan, dan alat kesehatan pelindung diri gratis justru diganti dengan bedil, sepatu laras, dan kamera pengawas.

Negara seperti linglung, alih-alih bertindak melawan virus justru memilih melawan warganya. Absurd!

Kritik keras dalam IDB memang dilakukan pada 2016 yang lalu, tetapi pesanya jelas sangat relevan hingga hari ini. Untuk kita. Di masa pegebluk yang suram ini.

IDB adalah cerminan mengenai bagaimana Negara telah membiarkan lubang besar persoalan jaminan sosial yang buruk dan menjebak kita semua dalam kungkungan Politik Orwellian yang menjadi-jadi.

Dan kebijakan normal baru  yang amburadul semakin menegaskan hal itu.

Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage 

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Resensi atau tulisan menarik lainnya dari  Petrus Kanisius Siga Tage

 


Spread the love